Pages

July 12, 2012

Inside The Actors Studio

Ada satu kegiatan ganjil yang saya lakukan sejak 4-5 bulan yang lalu. Kegiatan tersebut ialah menonton klip-klip tiap episode Inside the Actors Studio di YouTube.

Inside the Actors Studio, secara singkat merupakan sebuah acara televisi one-on-one interview yang dipandu oleh James Lipton. Bintang tamu di acara ini tentunya, jika melihat dari judul acaranya, adalah orang-orang yang berkecimpung di dunia seni peran, perfilman, dan pertelevisian. Walaupun sempat ada juga bintang tamu yang dari bidang selain itu.

Konsep acara Inside the Actors Studio tiap episode dapat dikatakan selalu sama. Diawali dengan narasi prestasi dan filmografi bintang tamu. Lalu kemudian interview mengenai biografinya. Dilanjutkan dengan retrospektif karir. Dan diakhiri dengan 10 pertanyaan khusus yang selalu sama ditanyakan kepada bintang tamu. Setelah itu barulah diadakan sesi tanya jawab dengan audiens.

Meskipun dengan konsep acara yang selalu sama, namun James Lipton & Inside the Actors Studio tetap mampu menyuguhkan suatu acara tontonan interview yang popular, eksklusif, dan edukatif.

Adapun 10 pertanyaan yang selalu ditanyakan oleh James Lipton, antara lain:
  1. What is your favorite word?
  2. What is your least favorite word?
  3. What turns you on?
  4. What turns you off?
  5. What sound or noise do you love?
  6. What sound or noise do you hate?
  7. What is your favorite curse word?
  8. What profession other than your own would you like to attempt?
  9. What profession would you not like to do?
  10. If heaven exists, what would you like to hear God say when you arrive at the pearly gates?
FYI, untuk pertanyaan kedua, jawaban yang sering muncul dari para bintang tamu ialah "No". Dan untuk pertanyaan kelima, salah satu jawaban yang sering muncul ialah "Suara tawa dari putra/putrinya". Mengagumkan, bukan?

Sepuluh pertanyaan itu sebenarnya disadur dari acara televisi di Prancis yang dipandu oleh Bernard Pivot. Yang membuat saya kagum, James Lipton selalu menyebut darimana konsep pertanyaan-pertanyaan tersebut disadur, dan selalu mengatakan bahwa Bernard Pivot adalah idola dan pahlawannya. Selalu di setiap episode.

Kapankah di Indonesia ada acara seperti Inside the Actors Studio? Helmi Yahya mungkin bersedia?

February 14, 2012

My Favourite Romantic Movie Lines

Februari identik dengan bulan kasih sayang, dalam hal ini mungkin tertuju kepada kekasih. Tentunya tiap orang memiliki romantic movies favorit dan mempunyai lines favorit masing-masing. Ada yang suka dengan Annie Hall dan film-film Woody Allen lainnya. Ada yang suka Titanic, Romeo+Juliet, The Notebook, atau film sejenis yang melodramatik. Ada pula yang suka romantic comedy semacam It Happened One Night, (500) Days of Summer, When Harry Met Sally, etc. Atau bahkan ada yang menganggap yang cukup disturbing semacam Breaking the Waves dan Eyes Wide Shut itu merupakan kategori romantis. Ya, tentunya setiap orang memiliki favorit yang berbeda yang mungkin dipilih karena pengalaman hidupnya.

Berikut adalah 5 romantic movie lines favorit saya :

5. Love Actually (Richard Curtis/UK/2003)

 
Lines:

[on sheets of poster board]
Mark: With any luck, by next year - Ill be going out with one of
  these girls.
[shows pictures of beautiful supermodels]
Mark: But for now, let me say - Without hope or agenda - Just because
  its Christmas - And at Christmas you tell the truth - To me, you
  are perfect - And my wasted heart will love you - Until you look
  like this.
[picture of a mummy]
Mark: Merry Christmas.

Cerita favorit saya di Love Actually. Exceptional, bukan dengan kata yang diucapkan, melainkan dengan storyboard.

4. High Fidelity (Stephen Frears/US/2000)


Lines :

Laura: I'm too tired not to be with you.
Rob: What, so if you had a bit more energy we'd stay split up, but things being as they are, with you being wiped out and all, you want to get back together? Is that it?
Laura: Yeah.

Film dengan storytelling yang cukup unik. Sayang tuk dilewatkan.

3. Chungking Express (Wong Kar-wai/HK/1994)


Lines :

# He Zhiwu, Cop 223: We’re all unlucky in love sometimes. When I am, I go jogging. The body loses water when you jog, so you have none left for tears.

# He Zhiwu, Cop 223: If memories could be canned, would they also have expiry dates? If so, I hope they last for centuries.

Lebih menarik cerita yang kedua, namun lebih personal bagi saya cerita yang pertama, termasuk di dalamnya lines ini. Salah satu lines paling puitis dari film yang pernah saya tonton.
Contoh lines puitis lainnya ialah "Every night and every morn, some to misery are born. Every morn and every night, some are born to sweet delight. Some are born to sweet delight; some are born to endless night." -Mr. Nobody at Jarmusch's Dead Man (1995), based on William Blake's Auguries of Innocence-

2. If Only (Gil Junger/US/2004)


Lines :

Ian Wyndham: I have to tell you this and you need to hear it. I loved you since I met you, but I wouldn't allow myself to truly feel it until today. I was always thinking ahead, making decisions soaked with fear... Today, because of you... what I learned from you; every choice I made was different and my life has completely changed... and I've learned that if you do that, then you're living your life fully... it doesn't matter if you have five minutes or fifty years. Samantha if not for today, if not for you I would never have known love at all... So thank you for being the person who taught me to love... and to be love.
Samantha Andrews: I don't know what to say.
Ian Wyndham: You don't have to say anything... I just wanted to tell you.
 
Melodramatis? Tidak juga menurut saya jika dibandingkan dengan film sejenis yang sudah saya sebut di awal post tadi, lagipula itu merupakan klimaks film ini. Love it & it's very personal for me.

1. Punch-Drunk Love (Paul Thomas Anderson/US/2002)


Lines :

Barry: I have a love in my life. It makes me stronger than anything you can imagine.

Simple lines. Probably best lines from PTA's films. Kalimat penyemangat Barry Egan, saya, atau mungkin juga akan menjadi penyemangat tuk anda? Jika iya, nanti berarti anda termasuk Punch-Drunk Lover.

Wag The Dog (Barry Levinson, US, 1997)

Directed byBarry Levinson
Produced byBarry Levinson
Robert De Niro
Written byHilary Henkin
David Mamet
Story byLarry Beinhart (novel)
StarringDustin Hoffman
Robert De Niro
Music byMark Knopfler
CinematographyRobert Richardson
Editing byStu Linder
Distributed byNew Line Cinema
Release date(s)December 17, 1997 (US)
Running time97 minutes






Wag the Dog dibuka dengan kalimat-kalimat berikut ini :

Why does the dog wag its tail?
Because the dog is smarter than the tail.
If the tail were smarter, it would wag the dog.

Wag the Dog sendiri merupakan idiom dari "the tail wagging the dog", yang makna denotasinya kurang lebih "sesuatu yg merupakan hanya bagian kecil namun dapat mengendalikan hal yang lebih besar atau keseluruhan". Lalu apa hubungan judul film, yg berupa frasa idiom, dengan cerita film itu sendiri? Tentunya bukan cerita tentang seekor anjing.

Wag the Dog merupakan film black comedy, komedi yang bermaksud menyindir hal-hal yang terjadi di kehidupan nyata. Politik, bidang itulah yang menjadi objek dalam film ini. Film yang disutradarai oleh Barry Levinson ini fokus menyindir tentang kebijakan politik pemerintah Amerika terutama soal pencitraan lembaga eksekutifnya.

Draft awal skenario film ini ditulis oleh Hilary Henkin berdasarkan novel American Hero karya Larry Beinhart yang kemudian disempurnakan dialog-dialognya oleh David Mamet. Yap, David Mamet membuat dialog-dialog film ini menjadi renyah. Hal itu juga didukung dengan deretan cast yang mumpuni. Cukup dengan gaya santai-nya, Dustin Hoffman mampu memerankan seorang produser hollywood dengan style uniknya. Ditambah gaya comical seorang Robert De Niro yang mengingatkan saya dengan style-nya di Midnight Run.


Wag the Dog dimulai pada 11 hari sebelum Pemilu Presiden Amerika, dimana sang presiden hendak mencalonkan diri lagi. Namun terjadi hal yang tidak diinginkan, tersiar kabar bahwa sang presiden tersangkut kasus skandal seks dengan gadis dibawah umur. Pemilu kurang 11 hari lagi, dan media mulai ramai memberitakan hal itu. Untuk itulah White House memanggil Conrad Brean (Robert De Niro), seorang spin-doctor yang ditugaskan melakukan pencitraan baik sang presiden dan sekaligus menutup pelan-pelan kasus skandal seks dari media hingga setelah pemilu berakhir. Lantas apa ide dari Mr. Brean? Dan apa hubungannya dengan Stanley Motss, seorang produser hollywood? Tentu anda dapat membayangkannya, namun alangkah lebih baik untuk langsung menontonnya.

Film ini informatif, itu yang saya suka. Walaupun informatifnya masih belum dapat dibuktikan apakah memang benar ada cara-cara seperti itu. Jika memang ada berarti selamat datang di dunia abu-abu.

January 30, 2012

Abigail's Party (Mike Leigh, UK, TV Play, 1977)

Devised byMike Leigh
Produced byMargaret Matheson
Based onAbigail's Party, a Stage Play of Hampstead Theatre Production by Mike Leigh
StarringAlison Steadman, Tim Stern, Janine Duvitski, John Salthouse, Harriet Reynolds
ChannelBBC
Running Time102 Minutes

Saya memang belum menonton semua karya-karya Mike Leigh, sejauh ini hanya 7 film. Selama pengalaman menonton karya beliau mungkin terasa ada karakter yang annoying sekali, polos, dan perbedaan kelas antar karakter. Hal serupa juga ada di Abigail's Party. Film yang diangkat dari stage play berjudul sama ini menceritakan tentang kehidupan bermasyarakat, dalam hal ini disajikan dalam bentuk suatu acara silaturahmi. Beverly & Laurence menjadi tuan rumah acara kumpul-kumpul kecil perumahan. Ange & Tony ialah yang pertama kali datang, mereka ialah warga baru di komplek tersebut, Kemudian dilanjutkan dengan kehadiran Sue yang datang ke acara tersebut karena di rumahnya sedang ada pesta ulang tahun anaknya, Abigail.

Beverly merupakan seorang istri yang bossy, dan masih banyak lagi karakter unik seorang Beverly. Laurence, seorang suami yg selalu mengalah, saya suka curhatan implisit dia pertengahan film. Ange & Tony mungkin kebalikan dari Beverly & Laurence, Hanya saja Tony cukup jaim di luar rumah. Sedangkan Sue merupakan seorang wanita yang sudah bercerai dengan suaminya. Setelah menonton seperempat bagian mulai terlihat adanya perbedaan kelas dari obrolan mereka.

Yap, film ini hanya bersetting di ruang tamu Beverly & Laurence sepanjang kurang lebih 100 menit. Akting dan ekspresi mereka cukup memukau saya, khususnya seorang Alison Steadman. Tetapi karakter fave saya disini ialah Laurence. Dialognya? oke. Walau hampir 2 jam hanya di ruang tamu, tetapi tidak terasa flat, malah semakin kebelakang semakin panas. Selamat mencari dan menonton.

January 22, 2012

The Descendants (Alexander Payne, US, 2011)

Directed byAlexander Payne
Produced byJim Burke
Alexander Payne
Jim Taylor
Screenplay byAlexander Payne
Nat Faxon
Jim Rash
Based onThe Descendants by
Kaui Hart Hemmings
StarringGeorge Clooney
Shailene Woodley
Judy Greer
Beau Bridges
Matthew Lillard
Robert Forster
CinematographyPhedon Papamichael
Editing byKevin Tent
StudioAd Hominem Enterprises
Distributed byFox Searchlight Pictures
Release date(s)September 10, 2011 (Toronto)
November 18, 2011 (United States)
Running time115 minutes

Alexander Payne mungkin masih kalah pengalaman dan kemampuan dengan Mike Leigh dalam hal menyikapi lebih dalam sisi yang "biasa" terjadi dalam realita kehidupan. Mungkin juga masih belum mampu membangun karakter yang sangat powerful seperti Paul Thomas Anderson. Mungkin juga dialognya tidak serenyah Coen Brothers. Tetapi Payne sendiri memiliki signature tersendiri sebagai seorang auteur pada setiap filmnya yaitu mengulas sisi humanisme secara "natural" dengan disisipi komedi satir. Sekilas mirip dengan Jason Reitman, tetapi menurut saya Payne tanpa menggunakan dramatisasi berlebihan.

Bagi seorang auteur, signature itu dapat dikatakan identitas dari setiap karyanya. Walaupun tidak dijelaskan secara eksplisit, tetapi signature tersebut akan muncul sendirinya dan penonton yang pernah menonton beberapa karyanya akan dengan mudah mengenalinya. Sebagai contoh lain, Wes Anderson dengan gaya komedi garingnya, quirky style. Terrence Malick dengan gaya narrative-nya, dan masih banyak lagi contoh signature seorang auteur.

Kembali ke The Descendants, Di film ini Payne mencoba menggabungkan komposisi dari 3 film sebelumnya (Saya belum menonton Citizen Ruth). Kompleksitas problem dan cast yang lumayan banyak untuk sebuah film Payne yang setara dengan Election, tentunya masih diarahkan secara fun seperti di Election. Kemudian membahas tentang kesedihan layaknya About Schmidt, tetapi sekali lagi dengan fun style seorang Alexander Payne. Dan ada kemiripan seorang Matt King (George Clooney) dengan Miles Raymond (Paul Giamatti di Sideways) yaitu soal making decision setelah melakukan trip bersama "kerabat"nya.

The Descendants menceritakan tentang family crisis. Untuk film ini saya sengaja tidak menggunakan istilah dysfunctional family. Matt King, seorang lawyer yang sibuk, mendapat kabar tentang kecelakaan boat yang menimpa istrinya, Elizabeth King, sehingga kepalanya terbentur dan tidak sadarkan diri, atau koma. Dokter memutuskan bahwa tidak ada harapan lagi. Hidup Elizabeth, istri Matt, hanya bergantung pada peralatan medis.. Dokter menyarankan Matt untuk mengambil keputusan menyudahi perjuangan istrinya. Matt pun kemudian memutuskan untuk memberitahu kabar duka tersebut kepada para kerabatnya, termasuk kedua putrinya, Scottie (Amara Miller) dan Alexandra King (Shailene Woodley). Alex membenci ibunya karena sebuah alasan yang juga nantinya mengejutkan seorang Matt.


Disisi lain Matt adalah seorang pemegang keputusan ya atau tidaknya penjualan tanah keluarga seluas 25000 acres di pulau Kaua'i di kepulauan Hawaii. Yap, syuting film ini dilakukan di Hawaii. Scoring music juga menggunakan musik tradisional Hawaii. Semua cast yang dipilih saya rasa sudah tepat. Mulai dari pemilihan seorang George Clooney yang terasa karakternya memang Clooney sekali, hal ini mengingatkan saya seperti pemilihan cast Ryan Bingham di Up in the Air, Clooney banget. Untuk pemilihan peran pendukung juga sudah pas. Shailene Woodley yang cantik mampu memerankan Alex yang sensitif. Scottie yang polos diperankan dengan baik oleh Amara Miller, dan masih banyak lagi.


Bagaimana untuk menjadi sebagai Oscar contender bulan depan? Film ini bukan film "wah" seperti War Horse atau mungkin juga Hugo (yang saya belum tonton) dan dengan The Artist yang unik untuk era sekarang. Untuk kategori Best Director juga masih terasa berat. Untuk Clooney? Saya tidak merasa Clooney oke banget disini, hanya sekedar oke. Mungkin untuk Adapted Screenplay Payne dapat menyabetnya. Meskipun pesimis untuk mendapat Best Picture, tetapi saya akan senang jika film ini menjadi yang terbaik. Karena saya suka film yang membahas sisi humanisme yang tak terlalu didramatisir (baca: lebay). Oh ya, film ini juga personal bagi saya, karena saya pernah mengalami adegan di perahu pada bagian-bagian akhir film. Thanks Mr. Payne. Saya tunggu Road Movies anda selanjutnya, Nebraska dan Fork in the Road.

January 17, 2012

The Straight Story (David Lynch, US, 1999)

Directed byDavid Lynch
Produced byNeal Edelstein
Mary Sweeney
Written byJohn E. Roach
Mary Sweeney
StarringRichard Farnsworth
Sissy Spacek
Harry Dean Stanton
Music byAngelo Badalamenti
CinematographyFreddie Francis
Editing byMary Sweeney
Distributed byWalt Disney Pictures (US)
FilmFour (UK)
Release date(s)May 21, 1999
Running time112 minutes





David Lynch, saya masih ingat pertama kali menonton karyanya dibuat bingung. Sampai sekarang malah saya masih bingung dengan Mulholland Drive :D. Tapi The Straight Story berbeda dengan Mulholland Drive atau Lynchian lainnya. The Straight Story dapat dikatakan tidak menyimpan misteri dan "normal" layaknya film yang sering kita tonton lainnya. Film ini dapat menjadi sebuah Road Movie yang biasa apabila dilakukan dengan cara yang biasa. Yap, The Straight Story merupakan salah satu Road Movie yang unik.

Diangkat dari kisah nyata seorang Alvin Straight, seorang veteran perang, yang melakukan perjalanan dari Iowa menuju Wisconsin (sekitar 400KM)  dengan menggunakan Lawn mower-tractor (kita sebut traktor saja). Adapun alasan Alvin melakukan perjalanan ialah untuk menjenguk saudaranya yang sedang sakit yang lama tidak ia temui.

Alvin Straight diperankan dengan manis oleh Richard Farnsworth di usianya yang menginjak 79 tahun. Bahkan Richard pun mendapatkan nominasi Best Actor Oscar untuk perannya. Sissy Spacek juga memerankan Rose Straight dengan cukup baik, dengan akting gagapnya. Bahkan seorang Harry Dean Stanton yang cuma muncul sebentar sebagai saudara Alvin, Lyle Straight, juga dapat mengekspresikan raut wajah yang pas menurut saya.


The Straight Story, sebuah persembahan yang manis dari David Lynch. Heartwarming.

Badlands (Terrence Malick, US, 1973)

Directed byTerrence Malick
Produced byTerrence Malick
Edward R. Pressman
Written byTerrence Malick
StarringMartin Sheen
Sissy Spacek
Warren Oates
Music byGeorge Tipton
James Taylor
(theme "Migration")
CinematographyTak Fujimoto
Steven Larner
Brian Probyn
Editing byRobert Estrin
Distributed byWarner Bros.
Release date(s)October 15, 1973
Running time95 minutes



This is American life at 50's. Saya tidak yakin apabila di Indonesia ada case seperti di film yang ditulis dan disutradarai oleh Terrence Malick di debut penyutradaraannya ini. Sebuah romance-crime yang disajikan secara narasi menurut sudut pandang Holly (Sissy Spacek), seorang gadis yang menginjak usia dewasa. Cara narasi ini juga kemudian akan kita jumpai di film-film Terry Malick selanjutnya, khususnya akan berkembang di film The Thin Red Line (1999) yang menyajikan multiple narrative.

Kembali ke Badlands, bercerita tentang kisah cinta Kit (Martin Sheen), seorang pemuda berjiwa pemberontak di South Dakota yang bergaya seperti James Dean, jatuh cinta dengan Holly. Namun kisah cinta mereka tidak disetujui oleh ayah Holly. Jiwa pemberontak Kit pun muncul, dan terjadi apa yang sering kita dengar bahwa "Cinta itu buta".


Badlands, sebuah Road Movie yang menarik, dengan sajian cinematography indah yang didominasi warna pastel, pemandangan alam khususnya ladang gandum. Yap, gambar-gambar seperti ini akan kita jumpai kembali di karya Terry Malick selanjutnya, Days of Heaven (1978), bahkan lebih indah. Badlands, cukup disturbing memang untuk sebuah drama percintaan anak muda. Namun jika melihat seorang Kit di bagian akhir film, bisa jadi pandangan kita berubah.

Oh ya, lagu dari Nat King Cole, "A Blossom Fell", yang digunakan sebagai soundtrack sudah sangat pas.

... We planned together to dream forever
The dream has ended, for true love died
The night a blossom fell and touched two lips that lied ...

January 13, 2012

Midnight Run (Martin Brest, US, 1988)

Directed byMartin Brest
Produced byMartin Brest
Written byGeorge Gallo
StarringRobert De Niro
Charles Grodin
Yaphet Kotto
Music byDanny Elfman
CinematographyDonald E. Thorin
Distributed by    Universal Pictures
Release date(s)    July 20, 1988
Running time    126 minutes

Tiap kritikus film menilai kelebihan suatu film dari segi yang berlainan. Ada yang melihat dari segi akting pemainnya, keindahan cinematography-nya, dan masih banyak lagi. Tetapi bagi saya, dan mungkin anda, yang hanyalah seorang penikmat film mungkin cukup satu kata saja dalam menilai suatu film. Sebagai contoh, "Serruuuu" , atau mungkin dua kata, "Kerenn coy". Ya, kalo bisa saya simpulkan dari satu dan dua kata tersebut ialah itulah segi yang dinilai oleh penikmat film seperti kita, segi entertainment. Yap, Midnight Run adalah salah satu contoh film yg entertain sekali.

Robert De Niro dan Charles Grodin bintangnya. Duo tersebut mampu menghibur saya dengan tingkahnya yang saling "mengungguli". Ditambah aksi pendukung dari John Ashton, Yaphet Kotto, dan lainnya yang membuat ramai film ini. Tetapi menurut saya yang membuat film ini sangat entertain ialah cara cerita yang runtun, rapi, dan tidak membuat bosan dari screenwriter George Gallo.



Premis dari film ini sederhana, seorang pemburu bayaran, Jack Welsh (De Niro), yang mendapat order menangkap Jonathan Mardukas (Grodin) atau biasa dipanggil The Duke yang merupakan seorang akuntan yang "menilep" uang dari bos gangster narkoba Jimmy Serrano. Yap, terlihat simple tetapi pada akhirnya meliuk-liuk.

Road Movie, Crime-Comedy, merupakan genre film yang menyenangkan. Comedy disini tidak terlalu dark seperti In Bruges (2008) yang juga bergenre Crime-Comedy. Ah Midnight Run, sungguh sangat menghibur sekali.

Only Yesterday / Omohide Poro Poro (Isao Takahata, JP, 1991)

Directed byIsao Takahata
Produced byHayao Miyazaki
Yasuyoshi Tokuma (executive producer)
Yoshio Sasaki (executive producer)
Ritsuo Isobe (executive producer)
Screenplay byIsao Takahata
Based onOnly Yesterday by
Hotaru Okamoto and Yuko Tone
StarringMiki Imai
Toshiro Yanagiba
Yoko Honna
Music byKatz Hoshi
StudioStudio Ghibli
Running time118 minutes
CountryJapan
LanguageJapanese




Animasi sering diidentikan dengan dunia khayalan sang animator dengan berbagai macam makhluk-makhluk kreasinya. Tetapi hal tersebut berbeda dengan salah satu karya seorang Isao Takahata yang satu ini, Only Yesterday (Omohide Poro Poro) mendekati  realita yang ada di kehidupan, lebih tepatnya kehidupan seorang yang memasuki awal usia dewasa. Yap, Only Yesterday, walaupun animasi, menurut saya bukanlah merupakan film untuk semua usia anak-anak. Mungkin alangkah lebih baiknya untuk seorang diatas usia 13 tahun.

Film ini menceritakan kisah Taeko, seorang karyawan wanita berusia 27 tahun, belum menikah, yang berlibur ke tempat kakak iparnya di pedesaan daerah Yamagata disela-sela kehidupannya di Tokyo, tentunya menggunakan ijin cuti. Setelah mendapat ijin cuti, ia pun langsung berencana berangkat malam hari dengan menggunakan kereta. Pedesaan bagi Taeko adalah tempat yang menyenangkan karena semasa kecil ia tidak pernah berlibur ke desa ataupun kampung halaman dan pula jauh dari hiruk pikuk Tokyo.

Malam di kereta pun Taeko lalui dengan memori-memori masa kecil sewaktu ia kelas 5 SD. Mulai dari cinta monyet, saat pubertas, dan keinginan berlibur ke kampung halaman seperti teman-temannya. Sesampainya di stasiun, ia dijemput oleh Toshio, tetangga kakak iparnya warga pedesaan Yamagata, yang juga berprofesi menjadi petani dan peternak, dan Toshio juga masih single. Selama di Yamagata, memori masa kecil itu masih muncul. Sambil melakukan aktifitas di desa, Taeko pun menceritakan memori masa kecilnya kepada Toshio, tentang keluarganya, hal-hal di sekolah, maupun cita-cita yang sesungguhnya ingin Taeko capai yang dimana pada saat kelas 5 SD pintu menuju cita-cita tersebut telah terbuka. Tetapi ...



Only Yesterday, ada mungkin 4-5 kali saya tonton sejak 2 tahun lalu. Only Yesterday, sebuah film yang membahas issues bagi seorang di usia tersebut. Tetapi issues tersebut tetap dibahas dengan cara yang manis dan gambar yang "menyejukkan" oleh Takahata-san, dengan alunan musik seperti seruling bambu yang diaransemen oleh Katz Hoshi membuat Only Yesterday semakin cantik. Oh ya, issues tersebut ialah career & love. Omohide Poro Poro, Arigato Takahata-san.

* Recommended for "you"

January 04, 2012

My Favourite Sir Elton John's Songs

Nama                        : Reginald Kenneth Dwight
Nama  Panggung       : Sir Elton Hercules John, CBE, Hon DMus
TTL                           : Inggris, 25 Maret 1947
 Fly away skyline pigeon fly. Towards the dreams you've left so very far behind..







Sir Elton John itu jenius, setidaknya itu menurut saya :D. Meskipun untuk lirik lagu beliau banyak yang ditulis oleh rekannya Bernie Taupin. Berikut lagu Sir Elton John fave saya.

Honorable Mention

Love Song ( Tumbleweed Connection/1970). Akustik, Simple, try this. 

Levon (Madman Across the Water/1971). Epic.

Your Song (Elton John/1970). "I hope you don't mind. I hope you don't mind that I put down in words.. How wonderful life is while you're in the world.". Saya kira hampir semua pernah mendengar melody dalam part itu. Salah satu lagu romantis.

Sorry Seems To Be the Hardest Word (Blue Moves/1976). A sad song.

All of Lion King (1994)'s Soundtrack. Mungkin ini lagu-lagu beliau yang saya dengar pertama kali sewaktu kecil. Circle of Life & Can You Feel the Love Tonight favorite saya.

Funeral for a Friend/Love Lies Bleeding (Goodbye Yellow Brick Road/1973). Nice instrumentalia di part pertama. Dream Theatre juga merilis lagu ini (cover version).

Top 5 My Favourite

5. Candle In The Wind (1997 Version)



"Goodbye England's Rose ..". Ya, lagu persembahan beliau kepada almarhum Diana, Princess of  Wales ini merupakan "Best Selling-Single of All Time". Versi ini dinyanyikan untuk pertama kali saat funeral of Diana, Princess of Wales  di Westminster Abbey 6 September 1997. Sir Elton John & Pianonya memorable.

 4. Goodbye Yellow Brick Road (Goodbye Yellow brick Road/1973)


"Oh I've finally decided my future lies, beyond the yellow brick road..", salah satu my favourite line dari lagu-lagu Sir Elton John. Lagu ini juga digunakan sebagai soundtrack untuk film Breaking the Waves (1996). Lagu yang kaya akan nada, Sir Elton John menggunakan teknik falsetto disini.

3. I Guess That's Why They Call It The Blues


"Laughing like children, living like lovers..". Wow, nice lyric. Another my favourite line. Lagu ini menyenangkan, susah untuk dijelaskan :D, fun, Stevie Wonder bermain harmonika solo disini.

2. Skyline Pigeon (Empty Sky/1969)


"Fly away skyline pigeon fly. Towards the dreams you've left so very far behind..". Lirik lagu ini puitis, beautiful. Lirik terbaik dari Bernie Taupin menurut saya. Simply & Beutiful. Thanks, Sir.

1. Daniel (Don't Shoot Me I'm Only the Piano Player/1972)


"Daniel you're a star.....  in the face of the sky..". Fun fun fun. Seperti Levon, Daniel bercerita tentang seseorang. Daniel dicerita ini ialah kakak kandung dari "penyanyi" lagu ini. Jika Candle In the Wind mengingatkan saya pada mama, maka Daniel pada kakak saya. Sekali lagi, Fun Fun Fun. Great work, Sir. GBU.

November 21, 2010

Bumi Manusia

Judul         » Bumi Manusia
Penulis      » Pramoedya Ananta Toer
Genre        » Classic, Romance, History
Penerbit   » Lentera Dipantara
Tahun       » 2010 (Cetakan XV)
Halaman  » 535
Seorang terpelajar harus juga berlaku adil sudah sejak dalam pikiran apalagi dalam perbuatan ..

Perkenalan saya dengan om Pram adalah buku ini. Pernahkah anda membaca buku yang detail sekali penggambaran suasananya? Saya sudah, di buku ini. Serasa terbawa suasana tahun 1890an yang detail sekali. Alurnya lambat, tetapi om Pram jago sekali bercerita secara runtun dengan sabar, itu memberi kesan tersendiri bagi saya bahwa inilah seorang penulis yang amat cerdas dalam menuturkan suatu cerita secara runtun dan detail. Terpesona saya dibuatnya, apalagi penggambaran om Pram tentang Annelis, pasti sangat ayu sekali, oleh karena itu ulasan tentang "detail" saya letakkan di awal.

Untuk cerita, buku ini kisah pertama tentang perjalanan hidup RM Tirto Adisuryo (pahlawan pers Indonesia) yang dalam buku ini diberi nama Minke (Asal mula dari monkey). Tetapi lebih tepatnya buku ini bercerita tentang manusia, ya manusia, Manusia dgn segala problematikanya. Melihat manusia dengan segala sisinya. Karena memang ini adalah Bumi Manusia.

Apakah ini novel anti-imperialisme? Apakah ini sebuah roman? Apakah ini novel sindiran tentang budaya feodalisme di jawa? Ataukah sebuah novel  filsafat? Anda boleh memilih. Tetapi menurut saya pribadi ini sebuah roman. Ya, dan om Pram sangat cerdas dalam merangkai kata-kata indah. Yang jelas, saya masih terkesima dengan cara om Pram bertutur kata tentang detail keadaan, tokoh, dan masih banyak lagi.
FYI, novel ini sempat dilarang edar sewaktu jaman orba. Entah mengapa, padahal tidak ada ideologi Marxisme atau Leninisme yang katanya ada, sungguh aneh negara ini

Saya tetap terkesima dengan detail penceritaannya.
"Mas, kan kita pernah berbahagia bersama ?"
"Tentu, Ann."
"Kenangkan kebahagiaan itu saja, ya Mas, jangan yang lain."

GIGI

Judul         » GIGI
Penulis      » Adib Hidayat
Genre        » Biography
Penerbit   » Gramedia Pustaka Utama
Tahun       » 2009 (Cetakan I)
Halaman  » 396 (Include DVD Konser Tunggal 11 Januari di Jogja)
Cara orang menghargai karya? Bajakan itu dilegalkan saja. Ini cara menghargai karya cipta yang di Indonesia sudah sangat hancur!

GIGIKITA \m/ ..
Buku tentang GIGI, salah satu band '90 yang produktif sampai sekarang (17 Tahun 17 album). Buku yang ditulis oleh Adib Hidayat, wartawan majalah HAI, ini memenuhi harapan tentang apa yang menurut saya harus ada dalam biografi sebuah band. Semuanya dikupas tuntas, bukan cuma sejarah band dan album-albumnya saja, tapi juga riwayat hidup masing-masing personilnya.

Packaging buku ini sangat bagus, seperti layaknya kualitas buku-buku import sejenis yang harganya sampai sejutaan. Konon katanya buku ini hanya dicetak 3000 buku saja. Dan saya bersyukur memilikinya. Highly Recommended tuk GIGIKITA dan band lain yang akan membuat biography.

Salam Peace Love n Respect..

To Kill a Mockingbird

Judul         » To Kill a Mockingbird
Penulis      » Harper Lee
Genre        » Fiction, Classic
Penerbit   » Qanita
Tahun       » 2009 (Cetakan VII) ; Cetakan I 2008
Halaman  » 533
Kau tidak akan pernah bisa memahami seseorang hingga kau melihat segala sesuatu dari sudut pandangnya...hingga kau menyusup ke balik kulitnya dan menjalani hidup dengan caranya ..
Membunuh mockingbird? Mockingbird adalah sejenis murai bersuara merdu. Mockingbird adalah burung penyanyi. "Mereka tidak memakan tanaman di kebun orang, tidak bersarang di gudang jagung. Mereka tidak melakukan apapun, kecuali menyanyi dengan tulus untuk kita. Karena itulah, membunuh mockingbird itu dosa”, itulah jawaban yang diberikan ketika si Scout bertanya tentang mockingbird ini. 

Buku ini ditulis dari sudut pandang Scout, seorang gadis kecil 8 tahun yang tinggal di Maycomb, Alabama, dan bersetting ketika USA mengalami masa-masa apa yang dikenal dengan nama Great Depression. Novel ini akan menunjukkan bahwa sebuah prasangka sering kali membutakan manusia. Dan sebuah keadilan hanya dapat dilahirkan dari rasa cinta yang tak membedakan apa pun latar belakang seseorang. Harper Lee telah berhasil menyuguhkan sebuah novel menawan yang amat berkesan dan tak lekang oleh zaman.

Adalah Atticus Finch, seorang pengacara, yang merupakan ayah dari Scout. Kehidupan Scout dan Jem Finch, kakak Scout, berubah total saat ayah mereka menjadi pembela seorang kulit hitam. Ketika Atticus membela seorang yang dianggap sampah masyarakat, kecaman pun datang dari seluruh penjuru kota. Di tengah terpaan masalah yang menimpa keluarganya, si kecil Scout belajar bahwa kehidupan tidak melulu hitam dan putih.

Tokoh yang membuat saya terkesan ialah Atticus Finch. Cara ia menyayangi dan mendidik putra-putrinya patut dicontoh. Atticus menekankan pada mereka untuk menjadi anak yang terhormat. Walaupun orang lain mencaci dan menghina dengan kata-kata kasar, kata Atticus, "Tegakkan kepalamu tinggi-tinggi dan tahan keinginanmu untuk memukul. Apa pun yang dikatakan orang kepadamu, jangan dimasukkan ke hati. Cobalah untuk melawan mereka dengan pemikiranmu..". Hal-hal tentang Atticus secara implisit memiliki perhatian tersendiri bagi saya.

Kalimat disamping cover review ini merupakan kutipan yang paling terkenal dari novel ini. Subjudulnya pun tentang prasangka. :-)
Great book. Tidak salah jika novel ini menjadi Novel Terlaris Sepanjang Masa versi Guinness Book of Records.
Kalau hanya ada satu jenis manusia, mengapa mereka tidak bisa rukun? Kalau mereka semua sama, mengapa mereka merepotkan diri untuk saling membenci (hal 431)
Rate 4 ¾ Stars From 5 *

* Maunya 5, cuma karena kualitas kertas buku terbitan yang ini kurang bagus, jadinya ilang ¼ bintangnya :-)

November 20, 2010

For One More Day (Satu Hari Bersamamu)

Judul         » For One More Day (Satu Hari Bersamamu)
Penulis      » Mitch Albom
Genre        » Non-Fiction, Enlightenment
Penerbit   » Gramedia Pustaka Utama
Tahun       » 2008 (Cetakan II) ; Cetakan I 2007
Halaman  » 248

When you look into your mother’s eyes, you know that is the purest love you can find on this earth .. 

For One More Day, buku Mitch Albom tentang hantu? Saya rasa tidak demikian :-). Buku Albom yang pertama saya miliki. Saya memilih yang ini, dan bukan Tuesdays With Morrie ataupun The Five People You Meet In Heaven, karena ceritanya tentang seorang anak laki-laki dan ibunya yang telah meninggal. Dalam novel ini, dituturkan seorang ibu yang memiliki kasih sayang tanpa batas untuk anaknya. Kasih ibu tak bisa diukur, tak berharap balas, dan selalu ada tuk anaknya. Beruntunglah kalian yang masih memiliki seorang ibu di dunia ...

Adalah Charles (Chick) Benetto yang memiliki ibu dengan kasih sayang terhadapnya yang amat dalam. Chick Benetto mengalami kejadian yang mempertemukan dia dan ibunya yang telah meninggal satu hari saja. Seumur-umur dia menyia-nyiakan kehadiran ibunya dengan sibuk memilih menjadi "anak ayah", dan baru menyadari arti penting ibunya justru ketika ibunya meninggal dan ia menjadi depresi. Delapan tahun setelah ibunya meninggal, Chick memutuskan untuk bunuh diri. Bukannya meninggal tetapi malah bertemu dengan ibunya selama satu hari.

Ibu Chick, Posey, amat bijak. Sama seperti review kang Amang, saya juga terkesan dengan kejadian di perpustakaan. Petugas perpus melarang Chick meminjam sebuah buku dengan alasan buku itu terlalu sulit bagi anak kecil seperti Chick. Lalu apa yang dikatakan Posey kepada petugas perpus? "Jangan pernah berkata pada anak-anak bahwa sesuatu itu terlalu sulit. Jangan pernah!". Wah ..

Sekali lagi beruntunglah kalian yang masih memiliki seorang ibu di dunia. Enlightenment book. Tetap sayangi kedua orangtua kalian dimanapun, dan sampai kapanpun. Selamat membaca.

Rate 4 Stars From 5

Catatan Pinggir 1

Judul         » Catatan Pinggir 1
Penulis      » Goenawan Mohamad
Genre        » Non-Fiction, Essai
Penerbit   » Grafiti Pers
Tahun       » 2006 (Cetakan VI) ; Cetakan I 1982
Halaman  » 612
Kita tak jadi bijaksana, bersih hati dan bahagia karena membaca buku petunjuk yang judulnya bermula dengan "How to"...Kita harus terjun kadang hanyut, kadang berenang dalam pengalaman. Kita harus berada dalam perbuatan, dalam merenung dan merasakan dalam laku. Ujian dan hasil ditentukan di sana .. 
Itulah sepenggal kalimat penjelasan dari Catatan Pinggir tanggal 16 Oktober 1976 yang berjudul "ngelmu iku, ...". Lebih lengkapnya judul tersebut ialah "ngelmu iku, kalakone kanti laku".

Pemaparan diatas hanyalah secuil dari dari buku Catatan Pinggir 1 yang merupakan kumpulan tulisan kolom "Catatan Pinggir" yang dimuat pada Majalah Tempo, lebih tepatnya untuk Caping 1 (Catatan Pinggir 1) ialah rangkuman dari edisi 13 Maret 1976-12 September 1981 dengan 283 nomor. Buku ini terbagi menjadi 21 tema. Pemilahan tema-tema tersebut dicantumkan sepenuhnya dengan maksud mempermudah pembacaan. Ia bukan klasifikasi dalam artian yang ketat.

Sifat renungan yang justru hendak mencari pemahaman yang utuh tentang banyak peristiwa, oleh karena itu menggunakan pemilahan tema-tema. Meskipun Caping 1 telah terbit lama sekali namun bukan berarti isi buku ini ketinggalan zaman :D. Tulisan-tulisan GM (Goenawan Mohamad) seakan mampu mengena dan tetap dapat menjadi bahan refleksi bagi diri kita, dan alangkah lebih baiknya bagi negara kita tercinta Republik Indonesia.

GM, jika boleh saya mengatakan, seperti kamus berjalan, wawasan dan pemahamannya tentang segala hal cukup dalam. Hal itu terbukti dalam tulisan-tulisannya yang tidak melulu tentang politik, filsafat, ekonomi, melainkan juga sampai budaya dalam & luar negeri. olahraga, entertainment, makanan & minuman. dan lain sebagainya.

Rate 4 ½ Stars From 5

Sang Alkemis

Judul         » Sang Alkemis - The Alchemist
Penulis      » Paulo Coelho
Genre        » Fiction, Modern Classic
Penerbit   » Gramedia Pustaka Utama
Tahun       » 2005
Halaman  » 216

Yang membuat hidup ini menarik adalah kemungkinan untuk mewujudkan impian menjadi kenyataan ..

Novel ini ialah karya Paulo Coelho yang saya baca pertama kali. Berkisah tentang perjalanan seorang bocah bernama Santiago, bocah gembala, yang berasal dari Andalusia (Spanyol) tuk meraih cita-citanya/legenda pribadinya mencari harta karun. Awalnya Santiago cukup puas dengan kehidupannya saat itu tetapi mimpi yang datang beulang kali mulai menggangu pikirannya. Hingga pada akhirnya ia bertemu dengan seorang lelaki tua yang mengaku Raja Salem. Orang tua itu melihat banyaknya ketidakmampuan orang untuk memilih Legenda Pribadinya. Salah satu nasihat yang menjadi salah satu quote terkenal dari buku ini disampaikan oleh orang tua itu. "Saat kamu menginginkan sesuatu, segenap alam semesta bersatu untuk membantumu meraihnya.". Sebelum berpisah, raja tua itu memberikan dua batu penolong membaca pertanda, keduanya diberi nama Urim dan Thummim, dan raja tua itu hanya berkata, "Jangan pernah berhenti bermimpi, ikutilah pertanda."

Perjalanan demi perjalanan pun dilalui, mulai bertemu dengan seorang pengusaha toko kristal yang memiliki impian memutari Ka'bah 7 kali namun ia belum sempat meraih mimpinya dan akhirnya memutuskan membuka usaha toko kristal. Selain itu Santiago juga bertemu dengan lelaki Inggris yang memiliki keinginan bertemu dengan Sang Alkemis, Batu Filsuf, dan Obat Hidup. Pada kesempatan ini Santiago jatuh cinta dengan Fatima. Santiago memberanikan diri bilang cinta. Fatima berujar, “Seorang dicintai karena ia dicintai. Tak perlu ada alasan untuk mencintai.”.

Selanjutnya Santiago, bocah kecil itu, bertemu dengan Sang Alkemis. Dan terdapat dialog-dialog menarik yang menambah bobot porsi tersendiri untuk buku ini.
Apakah Santiago mampu meraih impiannya?

Kebanyakan orang menyukai kalimat "Saat kamu menginginkan sesuatu, segenap alam semesta bersatu untuk membantumu meraihnya.", tapi entah mengapa saya paling menyukai kalimat disamping cover.