Pages

July 12, 2012

Inside The Actors Studio

Ada satu kegiatan ganjil yang saya lakukan sejak 4-5 bulan yang lalu. Kegiatan tersebut ialah menonton klip-klip tiap episode Inside the Actors Studio di YouTube.

Inside the Actors Studio, secara singkat merupakan sebuah acara televisi one-on-one interview yang dipandu oleh James Lipton. Bintang tamu di acara ini tentunya, jika melihat dari judul acaranya, adalah orang-orang yang berkecimpung di dunia seni peran, perfilman, dan pertelevisian. Walaupun sempat ada juga bintang tamu yang dari bidang selain itu.

Konsep acara Inside the Actors Studio tiap episode dapat dikatakan selalu sama. Diawali dengan narasi prestasi dan filmografi bintang tamu. Lalu kemudian interview mengenai biografinya. Dilanjutkan dengan retrospektif karir. Dan diakhiri dengan 10 pertanyaan khusus yang selalu sama ditanyakan kepada bintang tamu. Setelah itu barulah diadakan sesi tanya jawab dengan audiens.

Meskipun dengan konsep acara yang selalu sama, namun James Lipton & Inside the Actors Studio tetap mampu menyuguhkan suatu acara tontonan interview yang popular, eksklusif, dan edukatif.

Adapun 10 pertanyaan yang selalu ditanyakan oleh James Lipton, antara lain:
  1. What is your favorite word?
  2. What is your least favorite word?
  3. What turns you on?
  4. What turns you off?
  5. What sound or noise do you love?
  6. What sound or noise do you hate?
  7. What is your favorite curse word?
  8. What profession other than your own would you like to attempt?
  9. What profession would you not like to do?
  10. If heaven exists, what would you like to hear God say when you arrive at the pearly gates?
FYI, untuk pertanyaan kedua, jawaban yang sering muncul dari para bintang tamu ialah "No". Dan untuk pertanyaan kelima, salah satu jawaban yang sering muncul ialah "Suara tawa dari putra/putrinya". Mengagumkan, bukan?

Sepuluh pertanyaan itu sebenarnya disadur dari acara televisi di Prancis yang dipandu oleh Bernard Pivot. Yang membuat saya kagum, James Lipton selalu menyebut darimana konsep pertanyaan-pertanyaan tersebut disadur, dan selalu mengatakan bahwa Bernard Pivot adalah idola dan pahlawannya. Selalu di setiap episode.

Kapankah di Indonesia ada acara seperti Inside the Actors Studio? Helmi Yahya mungkin bersedia?

February 14, 2012

My Favourite Romantic Movie Lines

Februari identik dengan bulan kasih sayang, dalam hal ini mungkin tertuju kepada kekasih. Tentunya tiap orang memiliki romantic movies favorit dan mempunyai lines favorit masing-masing. Ada yang suka dengan Annie Hall dan film-film Woody Allen lainnya. Ada yang suka Titanic, Romeo+Juliet, The Notebook, atau film sejenis yang melodramatik. Ada pula yang suka romantic comedy semacam It Happened One Night, (500) Days of Summer, When Harry Met Sally, etc. Atau bahkan ada yang menganggap yang cukup disturbing semacam Breaking the Waves dan Eyes Wide Shut itu merupakan kategori romantis. Ya, tentunya setiap orang memiliki favorit yang berbeda yang mungkin dipilih karena pengalaman hidupnya.

Berikut adalah 5 romantic movie lines favorit saya :

5. Love Actually (Richard Curtis/UK/2003)

 
Lines:

[on sheets of poster board]
Mark: With any luck, by next year - Ill be going out with one of
  these girls.
[shows pictures of beautiful supermodels]
Mark: But for now, let me say - Without hope or agenda - Just because
  its Christmas - And at Christmas you tell the truth - To me, you
  are perfect - And my wasted heart will love you - Until you look
  like this.
[picture of a mummy]
Mark: Merry Christmas.

Cerita favorit saya di Love Actually. Exceptional, bukan dengan kata yang diucapkan, melainkan dengan storyboard.

4. High Fidelity (Stephen Frears/US/2000)


Lines :

Laura: I'm too tired not to be with you.
Rob: What, so if you had a bit more energy we'd stay split up, but things being as they are, with you being wiped out and all, you want to get back together? Is that it?
Laura: Yeah.

Film dengan storytelling yang cukup unik. Sayang tuk dilewatkan.

3. Chungking Express (Wong Kar-wai/HK/1994)


Lines :

# He Zhiwu, Cop 223: We’re all unlucky in love sometimes. When I am, I go jogging. The body loses water when you jog, so you have none left for tears.

# He Zhiwu, Cop 223: If memories could be canned, would they also have expiry dates? If so, I hope they last for centuries.

Lebih menarik cerita yang kedua, namun lebih personal bagi saya cerita yang pertama, termasuk di dalamnya lines ini. Salah satu lines paling puitis dari film yang pernah saya tonton.
Contoh lines puitis lainnya ialah "Every night and every morn, some to misery are born. Every morn and every night, some are born to sweet delight. Some are born to sweet delight; some are born to endless night." -Mr. Nobody at Jarmusch's Dead Man (1995), based on William Blake's Auguries of Innocence-

2. If Only (Gil Junger/US/2004)


Lines :

Ian Wyndham: I have to tell you this and you need to hear it. I loved you since I met you, but I wouldn't allow myself to truly feel it until today. I was always thinking ahead, making decisions soaked with fear... Today, because of you... what I learned from you; every choice I made was different and my life has completely changed... and I've learned that if you do that, then you're living your life fully... it doesn't matter if you have five minutes or fifty years. Samantha if not for today, if not for you I would never have known love at all... So thank you for being the person who taught me to love... and to be love.
Samantha Andrews: I don't know what to say.
Ian Wyndham: You don't have to say anything... I just wanted to tell you.
 
Melodramatis? Tidak juga menurut saya jika dibandingkan dengan film sejenis yang sudah saya sebut di awal post tadi, lagipula itu merupakan klimaks film ini. Love it & it's very personal for me.

1. Punch-Drunk Love (Paul Thomas Anderson/US/2002)


Lines :

Barry: I have a love in my life. It makes me stronger than anything you can imagine.

Simple lines. Probably best lines from PTA's films. Kalimat penyemangat Barry Egan, saya, atau mungkin juga akan menjadi penyemangat tuk anda? Jika iya, nanti berarti anda termasuk Punch-Drunk Lover.

Wag The Dog (Barry Levinson, US, 1997)

Directed byBarry Levinson
Produced byBarry Levinson
Robert De Niro
Written byHilary Henkin
David Mamet
Story byLarry Beinhart (novel)
StarringDustin Hoffman
Robert De Niro
Music byMark Knopfler
CinematographyRobert Richardson
Editing byStu Linder
Distributed byNew Line Cinema
Release date(s)December 17, 1997 (US)
Running time97 minutes






Wag the Dog dibuka dengan kalimat-kalimat berikut ini :

Why does the dog wag its tail?
Because the dog is smarter than the tail.
If the tail were smarter, it would wag the dog.

Wag the Dog sendiri merupakan idiom dari "the tail wagging the dog", yang makna denotasinya kurang lebih "sesuatu yg merupakan hanya bagian kecil namun dapat mengendalikan hal yang lebih besar atau keseluruhan". Lalu apa hubungan judul film, yg berupa frasa idiom, dengan cerita film itu sendiri? Tentunya bukan cerita tentang seekor anjing.

Wag the Dog merupakan film black comedy, komedi yang bermaksud menyindir hal-hal yang terjadi di kehidupan nyata. Politik, bidang itulah yang menjadi objek dalam film ini. Film yang disutradarai oleh Barry Levinson ini fokus menyindir tentang kebijakan politik pemerintah Amerika terutama soal pencitraan lembaga eksekutifnya.

Draft awal skenario film ini ditulis oleh Hilary Henkin berdasarkan novel American Hero karya Larry Beinhart yang kemudian disempurnakan dialog-dialognya oleh David Mamet. Yap, David Mamet membuat dialog-dialog film ini menjadi renyah. Hal itu juga didukung dengan deretan cast yang mumpuni. Cukup dengan gaya santai-nya, Dustin Hoffman mampu memerankan seorang produser hollywood dengan style uniknya. Ditambah gaya comical seorang Robert De Niro yang mengingatkan saya dengan style-nya di Midnight Run.


Wag the Dog dimulai pada 11 hari sebelum Pemilu Presiden Amerika, dimana sang presiden hendak mencalonkan diri lagi. Namun terjadi hal yang tidak diinginkan, tersiar kabar bahwa sang presiden tersangkut kasus skandal seks dengan gadis dibawah umur. Pemilu kurang 11 hari lagi, dan media mulai ramai memberitakan hal itu. Untuk itulah White House memanggil Conrad Brean (Robert De Niro), seorang spin-doctor yang ditugaskan melakukan pencitraan baik sang presiden dan sekaligus menutup pelan-pelan kasus skandal seks dari media hingga setelah pemilu berakhir. Lantas apa ide dari Mr. Brean? Dan apa hubungannya dengan Stanley Motss, seorang produser hollywood? Tentu anda dapat membayangkannya, namun alangkah lebih baik untuk langsung menontonnya.

Film ini informatif, itu yang saya suka. Walaupun informatifnya masih belum dapat dibuktikan apakah memang benar ada cara-cara seperti itu. Jika memang ada berarti selamat datang di dunia abu-abu.